Pernyataan Bersama: SERUAN UNTUK SEGERA LEPASKAN SIMON MAGAL DAN JAKUB SKRZYPSKI Orang Papua dan Polandia dikenakan pasal makar di Indonesia

7 Sep 2018

London, New York, 7 September 2018

TAPOL dan East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) menyerukan pelepasan segera Simon Carlos Magal dan Jakub Fabian Skrzypski. Jika kasus Mr. Skrzypski dilanjutkan, kami menyerukan kepada semua pihak terkait untuk memastikan peradilan yang adil baginya. 

Kepolisian Indonesia menahan seorang mahasiswa Papua bernama Simon Carlos Magal (29 tahun) pada tanggal 1 September 2018 di Timika, terkait dengan penangkapan Jakub Fabian Skrzypski beberapa hari sebelumnya.[1] Menurut laporan media, Tuan Skrzypski, warga negara Polandia, mengunjungi Tanah Papua sebagai wisatawan ketika ia ditangkap oleh polisi di Wamena. Ia ditangkap karena dicurigai sebagai wartawan berkedok turis dan bahwa ia bertemu dengan sejumlah orang yang diduga anggota pejuang bersenjata kemerdekaan.[2]Keduanya dituduh melakukan makar dan saat ini sedang mendekam di penjara Jayapura menunggu proses persidangan.

Pendapat dan fakta di bawah ini adalah berdasarkan informasi yang kami kumpulkan dari laporan media, pembela hak asasi manusia di Papua, keluarga dan teman-teman kedua orang yang dimaksud. Kami memahami sensitivitas dan peliknya kasus ini. Kami juga menghormati peran kepolisian Indonesia dalam menyelidiki semua aktivitas yang tidak sesuai hukum terutama yang berkaitan dengan perdagangan dan kepemilikan senjata. Hasil temuan berikut belum dipublikasi di media manapun. Tujuan kami adalah untuk membuat kasus ini menjadi lebih jelas serta mendorong aparat penegak hukum Indonesia dan masyarakat luas untuk menjaga asumsi tidak bersalah terhadap Tuan Magal dan Tuan Skrzypski.

Sebelum ditangkap, Tuan Magal sedang menyiapkan keberangkatannya untuk melanjutkan studi S2 di Australia. Seorang dosen Papua yang terkenal dan dihormati, MY, secara terbuka mengungkapkan rasa frustrasinya dan mengecam penangkapan tersebut. Tuan Magal berencana mengikuti langkah MY untuk menjadi dosen di universitas terunggul di Tanah Papua seusai studinya. Komunikasi Tuan Magal dengan Tuan Skrzypski terbatas, dan Tuan Magal tidak memiliki kapasitas untuk melakukan negosiasi senjata seperti yang dituduhkan.

Pengenaan pasal makar terhadap Tuan Magal oleh karena pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Tuan Skrzypski melalui Facebook adalah berlebihan dan tidak sepadan dengan tindakan Tuan Magal. Kami meyakini bahwa Tuan Magal hanyalah terseret oleh tindakan Tuan Skrzypski. Menurut hasil temuan kami, Tuan Skrzypski adalah wisatawan biasa yang bisa jadi memang telah berlaku serampangan dan tidak bertanggung jawab di wilayah konflik. Sebagai akibatnya, warga setempat seperti Tuan Magal harus menanggung konsekuensi yang berlebihan.

Teman-teman dekat Tuan Skrzypski yang kami wawancarai menggambarkan sosoknya  sebagai seorang wisatawan ‘ekstrim’ yang sangat meminati budaya dan bahasa lain serta isu-isu kemanusiaan. Ia pernah mengunjungi Armenia, Myanmar, dan Irak untuk mempelajari budaya dan sejarah genosida di masing-masing wilayah tersebut. Sebelum mengunjungi Tanah Papua, ia telah berulangkali mengunjungi banyak tempat di Indonesia hingga bisa berbicara bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa lokal, walaupun sedikit, seperti bahasa Jawa, Ambon dan Sumba. 

Sumber kami menyebutkan bahwa polisi menggunakan foto-foto Tuan Skrzypski yang sedang memegang senjata sebagai salah satu alat bukti bahwa ia adalah pedagang senjata. Penjelasan yang kami terima dari salah seorang teman perjalanan Tuan Skrzypski, alias AS, menyebutkan bahwa sebagian foto-foto tersebut diambil di sebuah rumah olahraga tembak di Vaud, Swiss. Tuan Skrzypski sudah tinggal di wilayah Swiss tersebut sejak tahun 2008. Polisi menyita semua barang milik Tuan Skrzypski, termasuk sebuah bendera bertuliskan Liberté et Patrie, yang adalah bendera Vaud.

Sebagai seorang wisatawan ‘ekstrim’, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat bukanlah kelompok pro-kemerdekaan bersenjata pertama yang ia kunjungi dalam perjalanan petualangannya. Ia sebelumnya juga pernah mengunjungi Tentara Pembebasan Kurdi di wilayah pegunungan Qandil di Irak yang bermasalah. Ia ke sana pada musim semi 2017, sebelum pembebasan Mosul dari tangan ISIS. Tentu tujuan perjalanannya untuk belajar tentang perjuangan rakyat Tanah Papua mudah disalahartikan oleh pihak pemerintah Indonesia. Meskipun pilihan Tuan Skrzypski tampak tidak bertanggung jawab dan patut disesali, kami menganggap bahwa dirinya lebih sebagai sosok yang idealis dan naif ketimbang seorang kriminal. Kami merasa pengenaan pasal makar berlapis terhadapnya tidaklah adil. 

Menurut orang-orang yang ditemui oleh Tuan Skrzypski di Papua, ia mengaku ke mereka bahwa dirinya sedang hendak mempelajari tentang budaya, bahasa, dan perjuangan penentuan nasib sendiri Tanah Papua. Dia memang mendokumentasikan perjalanan dan pertemuan-pertemuannya, sebagaimana turis biasa lakukan, yang mana seharusnya tidak perlu disalahtafsirkan sebagai melakukan “kegiatan jurnalistik”.

Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa kepolisian Indonesia menaruh perhatian khusus pada rekaman-rekaman video yang diperoleh dari telepon genggam Tuan Skrzypski. Kami merasa hal ini tidak perlu ditanggapi berlebihan. Pernyataan terima kasih terhadap negara, dan bukannya terhadap individu yang bersangkutan, adalah cara lumrah orang Tanah Papua mengungkapkan terima kasih atas solidaritas dari komunitas internasional.

Dua orang Papua, EW dan AW, ditangkap atas kepemilikan amunisi di lokasi dan waktu berdekatan dengan penangkapan Tuan Skrzypski. GK, seorang pembela HAM terkemuka setempat yang telah berjumpa dengan EW, AW dan Tuan Skrzypski, mendapati bahwa amunisi tersebut adalah milik EW dan AW, bukan milik Tuan Skrzypski. Ia yakin bahwa dua kasus yang berbeda tersebut telah tercampur aduk.

Orang yang terbukti melakukan tindakan makar di Indonesia bisa dijatuhi hukuman maksimal seumur hidup atau waktu tertentu hingga 20 tahun. Pasal makar sudah sejak lama digunakan di Papua untuk mengintimidasi mereka yang menentang atau mempertanyakan kekuasaan pemerintah Indonesia di sana, juga untuk mengkriminalisasi kebebasan berekspresi. Kasus tuduhan makar terhadap Tuan Magal dan Tuan Skrzypski ini akan merusak upaya pemerintah Indonesia untuk memperkuat demokrasi, serta merupakan langkah mundur dari telah berkurangnya kasus makar dalam beberapa tahun terakhir ini.

Rekomendasi

Kami menyerukan:

  • Segera melepaskan Simon Carlos Magal
  • Segera melepaskan Jakub Fabian Skrzypski

 

Kami percaya bahwa Tuan Skrzypski telah dituduh secara tidak adil. Jika kasusnya dilanjutkan, kami menyerukan kepada semua pihak terkait untuk: 

  • memastikan yang berwenang untuk menjamin peradilan yang adil baginya. 

 

Kami menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk:

  • Berhenti menggunakan pasal makar yang sangat bermasalah tersebut, yang sudah sejak lama digunakan secara berlebihan untuk mengintimidasi aksi damai serta mengkriminalisasi hak atas kebebasan berpendapat.

TAPOL

info@tapol.org

ETAN

etan@etan.org

TAPOL - promoting human rights, peace, and democracy in Indonesia 86 Durham Road • London • N7 7DT • +44 (0) 20 7561 7485 • www.tapol.org | facebook.com/TapolUK/ | twitter.com/TapolUK

East Timor and Indonesia Action Network - supporting human rights, justice and democracy

PO Box 1663. New York, NY 10035-1663 USA • +1-917-690-4391 • www.etan.org | facebook.com/ETANUSA | twitter.com/etan009


[1] https://www.ucanews.com/news/indonesian-police-arrest-papuan-student-on-treason-charge/83229

[2] https://www.nytimes.com/aponline/2018/08/31/world/asia/ap-as-indonesia-poland.html

 

Tagged: West Papua